Ritus Berkepanjangan Pulaggajat di Mentawai

  • Whatsapp

KEPULAUAN Siberut melambangkan satu di jeda catur daratan besar di Gugusan pulau Mentawai. Tiga lainnya yakni Sipora, Pagai, lalu Sikakap. Siberut berjebah bakal pikiran domestik. Satu di antaranya budaya tuturan dari langgayan sikerei (atasan jenis). Adat-istiadat tuturan langgayan sikerei ini di antaranya arat sabulungan, punen, lalu turuk lagai. Perbendaharaan budaya tuturan di Mentawai ini lagi belacak yang belum diungkap, tapi sayangnya banyak sikerei kian menurun.

Bukti bontot ala depan 2021, sebilangan 47 sikerei yang terdapat kini bertongkat sendok 60-75 musim. Senyampang itu, meneladan Hariadi, eks Atasan Babakan Matotonan, keturunan anom enggak terdapat yang amuh menjabat sikerei. Dia memfaalkan, dalam waktu panca musim ke dada, telah enggak terdapat juga atasan jenis di desanya. Andaikan langgayan atasan jenis itu berkalang tanah lalu enggak terdapat yang mengggantikan, hikmah domestik kentara bakal menghilang. Bagi Hariadi, kuantitas kondisi lalu pemali ritus melakukan awing anom ogah menjabat sikerei. Mencari jalan, andaikan, layak mempunyai 10-15 kartu ceki buat kirab inaugurasi lalu diangkat menjabat sikerei.

 

Resepsi etiket 

Satu budaya kelompok Mentawai yang had kini lagi dilakukan yakni gigih pulaggjagat maupun perayaan etiket domestik dusun. Resepsi ini digelar sepanjang tiga hari tiga senja lalu ala hari keempat kebanyakan ditutup sama menjalankan ei kaleleu maupun mencari. Resepsi itu dimulai sama ritus pagi sama menelaah sebanyak aji-aji. Sikerei mencari dedaunan buat melakukan ritus. Dedaunan yang menduga dibacakan aji-aji lantas diletakkan di damping canang di bakkat kaccaila, bekas yang dianggap paranormal. Ritus dipimpin sikebbukat uma maupun sibakkat katcaila, yang lagi menjabat amir di tiap ritus gigih maupun perayaan. Amir ritus enggak layak dari sikerei, andaikan fasih tradisi, pahami jalan gigih, lalu tertua di jenis mencita-citakan.

Ayat-kalimat yang dituturkan dalam ritus buat pasibelek maupun mengeluarkan aura destruktif yakni kaya selanjutnya ini.

Tudung sikebbukat, ita sipumone kainek, anek mengintai saile mui pedih simagre mai sateteu nu si pu lia

Anai kuna’nak, kona kona dosen’guruk.

Artinya, “Hai kalian langgayan karuhun aku, ini terdapat jamuan buat beli jiwa aku langgayan cucumu yang melakukan gigih, datanglah, datanglah.”

Bicara-kata di akan melambangkan fragmen wacana yang diucapkan sikerei masa melaksanakan ritus pasibelek, yaitu satu ritus yang terdapat dalam gigih pulaggjagat. Hobatan itu dimaksudkan buat mengeluarkan aura yang destruktif yang dapat melingkupi perjumpaan besar perayaan besar dusun yang digelar di desa-desa. Berkepanjangan pulaggjagat diawali sama lia siboitok (taddat lia), ialah perayaan alit maupun alamat perayaan. Rata-rata diadakan pagi hari ala memukul 04.00 WIB, ditandai sama pemukulan tuddukat, canang, lalu gajeumak, demi pelebaya perayaan dimulai. Seputar memukul 07.30 dilakukan bele’ bubug uma maupun menyilih sepenggal bumbung dewan.

Lalu sikebbukat sibakkat katcaila melakukan irig sama menelaah aji-aji ala patera anau: ”Sailaku saila saila ngangan bolo, saila ngangan ferum’ saila oringen saila simalauru.” Mencari jalan beriktikad, patera anau menjabat perantara terbebasnya dari seluruh kesialan kerawanan lalu armada. Sehabis itu dibacakan aji-aji buat seekor mandung: “Ekeu kina gou’ gou’ kut salounu simaeru’ areu akek’ bolo areu akek ferum (jauhkanlah mandung aku dari kesulitan lalu jauhkan juga aku dari kesialan kerawanan seluruh yang aku perbuat bakal aku blengok di kalangmu).” Lantas supel mandung dipatahkan lalu dibedah empedunya, dari danau bakal pegari salou (pelebaya bahari maupun tidak baik).

Sayur anau lantas dibagikan akan semua hadirin imbauan lalu kelompok yang menuruti perayaan. Runtunan muri maupun ajun sibakkat katcaila melakukan petro buat dioleskan ala akseptor perayaan. Mencari jalan belakang hari memangkas kartu ceki lalu mandung, prosesnya disebut punu laitak. Sepanjang kirab etiket itu enggak berhal nyantap lalu menenggak dari pagi sampai bersih lalu enggak dapat berkenaan suami-istri sepanjang perayaan.

Sehabis nyantap bersih, sepenggal dari mencita-citakan bersigap angkat kaki ke pangan buat menyatukan daun-daun demi awalan buat ritus senja hari, ialah pasibitbit sipitto’ maupun mendepak demit. Cukup ritus ini, sikerei beribadah buat mendepak sipitto’ (demit), sama ala meringkus lantas menyatukan mencita-citakan lalu membunyikan aji-aji dini mendepak roh-roh itu. Sikerei dengan mencengkram daun-daun beredar ke haluan beranda dewan sama dimensi “Tuitui-tuitui (pulanglah, pulanglah).”

 

Hari kedua

Ritus seterusnya yakni lia sikarua ala perayaan hari kedua, yang dimulai pagi buta. Situasi itu ditandai sama menyerang tuddukat, gajeuma’, lalu canang kaya halnya di hari terpenting, lantas dilanjutkan sama pasosok (lia kasosorat) parade. Segala akseptor menggunakan petunjuk, sejak sikerei sinanalep (atasan jenis cewek), simatteu (atasan jenis laki), simatak (non-sikerei), lalu anasir ahli. Pagi harinya ala memukul 08.00 arahan gigih pulaggjagat ngasih ikon mencetuskan canang, maka seantero akseptor perayaan etiket layak jebrol pias dini mencampuri perayaan kedua. Sibakkat katcaila dibantu runtunan muri melakukan so’bermegah maupun larutan bermandikan biar ritus hening. Sehabis bermandikan, mencita-citakan bersarang ke pias.

Lalu, ritus iriq toitet, yaitu mengadopsi iriq dari materi kelambir sama menelaah aji-aji diikuti kandungan mesin nada konservatif, belakang hari kelambir dibuka lalu dimakan. Sibakkat katcaila lantas ngasih patera anau buat dipasangkan akan akseptor lalu menelaah aji-aji buat mandung lalu akseptor sama wacana “Lia ku kina gou’gou’ areu ake’ bolo, oringen, areu ake’ singu, areu ake’ sikatai’ (aduhai mandung jauhlah kesulitan aku, jauhlah kejelekan lalu bahaya lainnya di dusun aku).” Unggas cuma demi kata pengantar, ala intinya mencita-citakan beribadah akan Tuhan. Gala mandung lantas dipatahkan lalu dibakar buat dilihat empedunya (layak sama ritus sebelum-sebelumnya).

Ritus seterusnya yakni paeruk sainak, aktivitas dini memangkas kartu ceki. Sikerei menelaah aji-aji mencengkram patera boblo lalu sebiji cengkir/paeru’ sainak. Maknanya kartu ceki yang bakal dipotong yakni dabat berarwah sehingga layak berharap lampu hijau Tuhan dini pemotongan biar empunya lalu penyantapnya diberkahi. Kecuali itu, biar hewan-hewan itu bisa ajek berganda.

Sehabis disembelih, kartu ceki enggak direk dibakar, tapi digantungkan di monumen beranda dewan, kidal lalu daksina. Maknanya biar fauna yang menjabat asuhan itu lalu berkembang. Hidangan hari kedua disebut punulaitak, makanannya silakra lalu ikan-ikan. Sikerei nyantap bersua sama bini.

Aktivitas seterusnya ala petang hari yakni pasibelek lalu pasialak simagre. Sikerei ke kober mengkis jiwa maupun jiwa ahli yang lagi berjiwa maupun simagre, dibujuk biar balik ke rumahnya. Sikerei memangku dedaunan lalu gojo yang diberi kunir, lantas menyembelih mandung buat dibawa berbalik. Ritus itu cuma dapat dilakukan sikerei yang telah dibuka ain batinnya buat menilik hal-hal ajaib kaya simagre. Unggas yang menduga disembelih ini lalu dimantrai sama tuturan doroikap simagretta.

Cukup senja hari sehabis simagre dijemput di kober, diawali sama dendang yang lemas lalu memuat kain-kain di beranda dewan juga daun-daun di akhir buluh buat memastikan simagre buat enggak cemburu balik ke uma. Itu layak kaya orangtua memengaruhi anaknya yang hilang dari dewan. Sikerei senja itu menjalankan turuk sama pusaran erat dengan mencengkram lopak alit lalu jejeneng, lantas semua sikerei berkisar mencengkram buluh yang di ujungnya dimasuki patera bermantra, demi ikon maka simagre menduga balik sampai para sikerei kesambet. Mencari jalan pula berlagu berbareng. Petak alit ditaruh di atasan akseptor gigih.

 

Hari ketiga

Resepsi hari ketiga maupun lia sikatelu dimulai pagi buta sama melisankan canang lalu gajeuma’ lantas membunyikan aji-aji ala dedaunan sama impian mencita-citakan dibebaskan dari kejelekan lalu diberi keamanan detik beraksi.

Lalu yakni iriq, memikirkan seantero anasir ahli yang menjabat akseptor perayaan etiket biar semua membaca sebagian kecil. Dilanjutkan sama menyirep kartu ceki yang telah disembelih, berniat biar ketuat yang dimakan diberi keberkahan lalu berharga bersahabat sehingga langgayan pasak negeri kintil mengenangkan arwahnya secara atma. Pengalokasian ketuat lalu rezeki lain layak menyeluruh lalu enggak dapat terdapat sebagian kecil pula yang dihilangkan haknya. Mencari jalan beriman, keseimbangan itu membebaskan badan dari armada lalu kesulitan. Lalu yakni pukalaibok, daftar sikerei nyantap berangkap sama istrinya sama bersua. Petang amat. Semua akseptor bercempera.

Pagi harinya maupun hari keempat yakni saatnya mencari, ini ritus akhir. Akseptor lalu sikerei berbarengan angkat kaki ke pangan. Itulah hasil merangkai gigih pulaggjagat kelompok Mentawai, budaya yang sebu bakal arti lalu teori hayat. Terdapat nilai-nilai din yang akrab lalu hikmah domestik yang kemungkinan dilakukan secara maklum lalu lebih dalam. Kesetimbalan jagat raya aman, semacam itu juga ikatan basyar, bidang, lalu Sang Pembuat. Andaikan ritus itu menghilang, dikhawatirkan lak bersahabat sana gogos lalu kelompok pula kian egoistis. Akibat lantaran itu, budaya sejenis ini butuh dipertahankan biar kesetimbalan ikatan jeda bidang, basyar, lalu Tuhan ajek aman. (M-4)

 

Berkenaan juru tulis

 

Dr Zulfa MPd MHum. Penelaah pikiran Mentawai, pelatih STKIP PGRI Sumatra Barat sama datar ajar kata pengantar data bersahabat, riwayat tuturan, lalu pikiran Minangkabau.


Pos terkait