Haji, Kurban, dan Solidaritas Kemanusiaan Universal

  • Whatsapp

BAGI umat Islam Indonesia, berhaji itu harus mengantre. Daftar tunggu giliran berangkat haji ke Tanah Suci bisa mencapai lebih dari 20 tahun. Apalagi, selama dua tahun terakhir, pemerintah tidak memberangkatkan haji karena pandemi covid-19. Fakta ini menunjukkan animo dan kesadaran beragama umat ini sangat tinggi.

Para hujjaj dalam memenuhi ‘panggilan Allah’ ke Tanah Suci tentu bercita-cita meraih haji mabrur. Predikat haji mabrur meniscayakan perubahan mindset, kepribadian, dan perilaku menjadi lebih saleh serta bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Haji merupakan ibadah multidimensi, multinilai, multisubstansi, dan multioreintasi karena ritualitas haji bukan hanya sekadar ritual fisik dan finansial (ibadah jismiyyah maliyyah) yang melelahkan, melainkan juga merupakan ibadah mental spiritual, sosial, ekonomi, multikultural, dan berwawasan global-internasional.

Pertanyaannya, jika salah satu tujuan ibadah haji ialah menyaksikan aneka manfaat ‘muktamar internasional’ umat Islam di Tanah Suci (QS Al-Hajj [22]:28), sudahkah ibadah haji itu berfungsi sebagai forum konsolidasi dan kohesi umat yang membuahkan solidaritas kemanusiaan universal?

Dunia internasional dan dunia Islam sedang mengalami ujian berat dan berada dalam situasi pelik akibat pandemi. Bagaimana haji dan kurban yang merupakan satu ‘paket peribadatan’ dapat menginspirasi aktualisasi solidaritas kemanusiaan universal, terutama membangkitkan spirit filantropi dalam rangka kebangkitan ekonomi umat dan bangsa?

 

Pesan universal haji dan kurban

Syariat kurban bukan sekadar penyembelihan dan pembagian daging kurban bagi yang berhak menerimanya. Kurban sarat makna dan pesan universal; pertama, kurban menumbuhkan kesadaran dan etos berbagi dan berempati. Kedua, kurban membentuk kohesi, pendekatan, persaudaran, dan kedermawanan sosial antara pekurban dan penerima daging kurban. Ketiga, kurban meningkatkan asupan gizi dan protein hewani, terutama bagi para penerimanya.

Keempat, tradisi pengorbanan manusia, dalam berbagai bentuknya, termasuk aksi kekerasan, pelanggaran HAM, dan diskriminasi, harus diakhiri dan diganti dengan menyembelih hewan kurban. Kelima, menyembelih hewan kurban sejatinya mengajarkan penyembelihan sifat buruk dan karakter binatang yang egoistis, pemarah, rakus, pemangsa, dan pembunuh sesamanya.

Kelima, pesan universal kurban itu senapas dengan pesan kemanusiaan luhur ibadah haji, terutama penegakan hak-hak asasi manusia (HAM). Persamaan dan persatuan, antidiskriminasi, dan perundungan (bullying) merupakan pesan moral dari pakaian ihram yang dikenakan jemaah haji dari mikat (titik permulaan) hingga tahalul (waktu finalisasi manasik haji dan umrah).

Tawaf (mengelilingi Ka’bah) sebanyak tujuh kali putaran melambangkan tasbih kehidupan yang mengharuskan jemaah haji berada di orbit tauhid. Artinya, kehidupan ini harus dilandasi akidah tauhid yang benar dengan konsistensi orientasi perjuangan mulia dalam menatap kiblat kebenaran dan memperjuangkan kemanusiaan.

Tawaf mendidik jemaah haji untuk melepaskan segala ikatan dan atribut keduniaan, fanatisme, dan egoisitas sektoral, aneka kepentingan ideologi politik, dan ekonomi materialistik menuju poros kehidupan yang terkoneksi dengan sang pemilik kekuasaan langit dan bumi. Tawaf merupakan simbol gerak dinamis spiritual menuju tauhid sejati; tauhidullah (pengesaan Allah dalam beribadah) dan tauhid al-ummah (penyatuan umat manusia).

Pesan kasih sayang kemanusiaan didemonstrasikan melalui sai antara bukit Shafa dan Marwa. Keikhlasan, kegigihan, dan perjuangan tanpa mengenal lelah Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, dalam mencari dan menemukan ‘air kehidupan’ bagi buah hatinya yang kehausan menjadi pesan universal bagi jemaah haji untuk tidak pernah lelah dan menyerah dalam menyayangi dan mengantarkan anaknya meraih cita-citanya. Sai merupakan simbol etos perjuangan demi kasih sayang kemanusiaan yang harus bergerak dari Shafa (ketulusan hati dan kejernihan pikiran) menuju Marwa (cita-cita dan prestasi tinggi memberi kepuasan hati bagi diri sendiri dan orang lain).

Pesan universal dari wukuf di Arafah ialah pentingnya kearifan personal dengan ‘berhenti sejenak sambil makrifat diri’ sehingga dapat merasakan kehadiran Allah SWT. Arafah merupakan simbol miniatur padang makhsyar, yang dapat menumbuhkan kesadaran eskatologis tentang pentingnya evaluasi diri dan ‘pengadilan diri sendiri’ sebelum diaudit dan diadili oleh Allah yang Maha Adil.

Wukuf di Arafah harus dijadikan sebagai momentum puncak kesadaran personal untuk mengambil keputusan yang arif dan adil; apakah selama ini jemaah yang berwukuf sudah menjadi hamba-Nya sejati ataukah masih menjadi pengabdi hawa nafsu dan setan? Apakah yang berwukuf itu sudah meneladani akhlak Allah atau masih selalu mementingkan syahwat keduniaan?

Pesan universal dari pelemparan tugu simbolik jamarat di Mina ialah pentingnya eliminasi egoisitas keduniaan dengan etos perjuangan dan pengorbanan. Mina merupakan simbolisasi cita-cita dan cinta. Karena cinta yang sangat tulus kepada Allah, Nabi Ibrahim AS rela ‘mengorbankan’ anak yang dicintainya, Ismail. Berjuang melawan setan dan hawa nafsu hanya bisa dimenangi rasa cinta yang tulus kepada Allah. Kadar cinta Nabi Ibrahim begitu murni dan tulus kepada Allah sehingga dia lebih memilih Allah daripada anak yang dicintainya.

Dengan cinta karena mengharap rida-Nya, Nabi Ibrahim sukses meraih cita-citanya; sang anak tidak jadi korban penyembelihan ayahnya sendiri. Namun, diganti oleh Allah dengan domba besar karena manusia seperti Nabi Ismail memang tidak seharusnya disembelih dan dikorbankan. Nabi Ismail ialah penerus perjuangan ayahnya yang harus diselamatkan, dimerdekakan dari tradisi pengorbanan manusia, dan dicerahkan masa depannya.

 

Solidaritas universal

Ibadah haji dan kurban sungguh sangat kaya inspirasi dan edukasi nilai. Dalam situasi pandemi, spiritualitas haji dan kurban idealnya bisa menumbuhkan dan meneguhkan solidaritas kemanusiaan universal. Haji dan kurban yang diikuti aneka suku bangsa, bahasa, negara, adat istiadat, watak, karakter, dan latar belakang sosial ekonomi serta budaya hendaknya melahirkan komitmen bersama untuk melawan aneka kebobrokan moral, ketidakadilan, neokolonialisme, hegemoni asing, dan sebagainya.

Pesan kemanusiaan universal haji dan kurban tersebut hendaknya mengintergrasikan spirit penghapusan aneka bentuk kekerasan, kesewenang-wenangan, dan kezaliman di manapun dan oleh siapa pun aktornya. Melalui haji dan kurban, Allah SWT menitipkan pesan perdamaian dan solidaritas kemanusiaan universal dengan mengedepankan persatuan, persaudaran, kedermawanan sosial, toleransi, menghargai kebinekaan, hidup rukun, harmoni, dan menjunjung tinggi penegakan HAM.

Para pekurban dan alumnus haji yang jumlahnya jutaan tentu merupakan kekuatan dahsyat jika bisa bersatu padu, bersinergi, dan berkolaborasi dalam mengatasi berbagai persoalan umat dan bangsa akibat pandemi. Pesan solidaritas kemanusiaan universal itu idealnya dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan mengutamakan ‘memberi dan memberi’ (give and give more) untuk berbagi kebahagiaan, berempati, dan memberi solusi terhadap krisis ekonomi umat dan bangsa agar keterpurukan dan kebangkrutan sosial dapat dihindari.


Pos terkait