Sejarah Kotagede Yogyakarta – Ibukota Kerajaan Mataram

  • Whatsapp

MEDIA 24 JAM: Sejarah Kotagede Yogyakarta – Ibukota Kerajaan Mataram

Kotagede adalah nama dalam bahasa jawa yang berarti kota besar. Mengapa demikian, karena dahulu Kotagede merupakan ibu kota kerajaan Mataram. Banyak peninggalan sejarah yang bisa dikunjungi.

Soetowijoyo yang merupakan raja pertama Mataram Islam, setelah pengangkatannya nama beliau berganti menjadi Panembahan Senopati. Beliau membangun Kotagede sebagai pusat pemerintahan dan beberapa tempat sebagai bukti adanya Mataram.

Tempat – tempat yang menjadi bukti peninggalan sejarah Mataram adalah:

Pasar Kotagede

Pasar legi kotagede yogyakarta

Pasar ini sekilas tampak biasa, namun jika dilihat secara detail bangunan pasar Kotagede terbilang unik. Terdapat ciri khas pada pasar Kotagede yakni pada saat pasaran jowo legi pasar ini akan ramai dan banyak penjual serta pembeli berkumpul. 

Pasaran legi dipilih sebagai namanya karena memiliki makna filosofis  berupa aura putih, dan memberikan energy baik. 

Masjid Kotagede

msjid mataram kotagede

Masjid Kotagede dikenal juga dengan nama Masjid Mataram. Arsitektur bangunan ini memiliki corak Mataram Hindu dan Mataram Islam.

Sebelum memasuki komplek masjid Kotagede tepatnya dihalaman parkir depan, terdapat pohon beringin besar yang dulunya ditanam oleh kanjeng Sunan Kalijaga. Pohon tersebut dikeramatkan dan diberi nama wetringin sepuh. Konon pohon beringin tersebut dihuni oleh sosok makhluk halus, yang bentuknya telah dilukis dikanvas dan bisa dilihat langsung oleh pengunjung.

Sosok penghuni tersebut enggan untuk menyebutkan nmanya, hanya saja dia berpesan bahwa “ musrik kui seko atimu dewe, udu seko tumindhake, ojo teko yen mung nyobo, mergo gusti udu dingo nyobo, ning ananging dinggo mlebu neng ati lan urip”.

Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan “kemusyrikan itu berasal dari hatimu, bukan dari kelakuanmu, jangan datang jika hanya ingin mencoba, karena tuhan bukan tempat uji coba, tapi tuhan itu dihayati dalam hati dan kehidupan”.

Masjid Kotagede melambangkan toleransi antar umat beragama. Dahulu ketika sutawijaya pertamakali membangun kerajaan Mataram, masih banyak penduduknya yang beragama hindu budha. Namun penduduk non islam mereka turut serta dalam pembangunan masjid Kotagede tersebut.

Dihalaman masjid diletakkan prasati berukuran 3 meter, berwarna hijau, yang berisikan informasi  bahwa Pangkubuwono, Raja dari Kasunanan Surakarta pernah merenovasi masjid Kotagede tersebut.

Prasarti tersebut juga ditandai dengan adanya hiasan berupa mahkota yang merupakan lambang Kasunanan Surakarta.

Sendang Seliran

sendang seliran

Sendang Seliran terdiri dari dua sendang, yakni sendang kakung yang digunakan tempat bersih diri kaum pria dan sendang putri untuk bersih diri kaum hawa. Sumber air untuk sendang kakung berasal dari makan raja Kotagede. Sedangkan air sendang putri berasal dari pohon beringin yang berada disekitaran komplek sendang seliran.

Seliran adalah kata yang dipilih karena seliran ini dibuat langsung oleh  Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati 

Makam Raja Kotagede

makam raja kotagede

Makam Raja Kotagede berada mepet disebelah barat dan selatan masjid Kotagede. Tidak sembarangan orang bebas keluar masuk kedalamnya. Bagi pengunjung yang hendak masuk, diharuskan melapor ke penjaga makam yang ada di kawasan tersebut. Kemudian pengunjung harus memakai baju adat ketika masuk kedalam makam.

Pos terkait