Batasi Penggunaan Video Gim untuk Anak-anak

  • Whatsapp

Merebaknya pandemi Covid-19 di berbagai belahan dunia telah menuntut adaptasi proses belajar siswa, dimana salah satunya menggunakan internet. Teknologi ini memungkinkan kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara daring, akan tetapi di sisi lain ternyata juga dapat menjadi ‘godaan baru’ bagi anak-anak untuk mengakses konten non-pendidikan atau hiburan.

Sebuah penelitian yang muncul di jurnal ‘Computer in Human Behavior’ bahkan menjelaskan siswa usia sekolah menengah yang menggunakan internet untuk mengakses media sosial atau video gim selama lebih dari satu jam setiap hari dalam seminggu, memiliki rata-rata nilai dan nilai ujian yang jauh lebih rendah.

Oleh karena itu para peneliti Center for Gambling Studies di Rutgers University-New Brunswick, Amerika Serikat menjelaskan para orangtua dan anak-anak perlu menentukan ambang batas penggunaan teknologi dan internet untuk keperluan hiburan.

“Selama pandemi Covid-19, teknologi sangat penting untuk memfasilitasi pembelajaran jarak jauh. Di saat yang sama, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan, terutama untuk hiburan, dapat berdampak buruk bagi perkembangan pendidikan anak-anak dengan memfasilitasi kebiasaan belajar yang tidak diinginkan dan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk kegiatan belajar,” kata asisten profesor di Center for Gambling Studies, Vivien Anthony, seperti dilansir Sciencedaily, Selasa, (25/5).

Dalam penelitian ini, Anthony bersama tim berusaha menganalisis data yang diambil dari ‘China Education Panel Survey’. Survei ini melibatkan kurang lebih 10.000 siswa sekolah menengah tahun pertama, dengan rata-rata usia 13,5 tahun.

Hasil analisis lantas menunjukkan anak-anak yang menggunakan internet untuk mengakses media sosial atau video gim selama empat jam atau lebih setiap hari memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk bolos sekolah. Lebih dari itu, hasil amatan juga menunjukan siswa laki-laki memiliki tingkat keterlibatan kegiatan belajar-mengajar yang lebih rendah ketimbang siswa perempuan.

“Temuan seperti itu sangat penting, mengingat pembelajaran daring kini menjadi gerakan baru di berbagai negara, seluruh dunia. Dalam lingkungan belajar yang mengintegrasikan internet, mudah bagi anak-anak untuk berpindah antar platform pendidikan dan hiburan selama pembelajaran tanpa memberi tahu guru atau orang dewasa terkait aktivitas alternatif yang mereka lakukan,” pungkas Anthony. (M-4)


Pos terkait