Tommy Karmawan Temukan Kebebasan Lewat Lukisan

  • Whatsapp

PANDEMI Covid-19 telah menghentikan segala aktivitas sehari-hari. Kegiatan dikurangi karena takut terjadi penyebaran virus korona. Termasuk kalangan seniman, semakin susah mencari pemasukan karena kegiatan musik ditiadakan, pertunjukkan tari hingga pameran lukisan pun tiada karena berpotensi terjadinya kerumunan dan memicu penularan Covid-19.

Satu-satunya cara, para seniman beradaptasi dengan membuat podcast atau Youtube agar tetap terhubung dengan penggemar walaupun pertunjukkannya tanpa penonton. Tidak ketinggalan seniman lukis Tommy Karmawan yang ikut beradaptasi di tengah pandemi Covid-19 ikut ikut beradaptasi di tengah pandemi covid-19 dengan mengakrabi media sosial untuk mempromosikan lukisannya.

Sebelumnya ia selalu rajin ikut pameran bersama rekan-rekan sesama pelukis. Namun di awal pandemi, tidak ada sama sekali pameran yang dilakukan oleh pelukis manapun di tempat pameran umum, kebanyakan dibatalkan. Namun di tengah kesulitan, selalu ada harapan dan optimisme. Rajinnya Tommy mengakrabi media sosial berbuah manis.

“Belasan lukisan saya saat pandemi terjual, dibeli kolektor-kolektor melalui teman dan media sosial. Sejak pandemi memang tidak ada pameran sama sekali, akan tetapi di awal Mei 2021 ini saya mulai lagi pameran offline di Plaza Semanggi sejak  6 hingga 25 Mei. Saya berharap mungkin nanti ada beberapa tempat sudah mulai membuka kegiatan pameran,” kata Tommy saat dijumpai mediaindonesia.com, di sela-sela pameran lukisan  di Plaza Semanggi, Minggu (23/5).

Pameran lukisan di Plaza Semanggi Jakarta ini merupakan pertama kalinya setelah satu tahun lebih ia vakum pameran karena pandemi.Tommy yang awalnya dikenal sebagai musisi dan gitaris band Garux pernah populer di era 90 an itu memiliki ciri khas dalam lukisannya. Ia mengaku tidak masuk dalam aliran tertentu dengan baku dan dikotak-kotakkan. Hal itu sering ditanya oleh para kolektor lukisannya.

“Banyak yang bertanya tentang aliran lukisan yang saya buat, tetapi saya sendiri tidak bisa memastikan. Saya tidak berkarya atas dasar aliran tertentu dengan baku dan dikotak-kotakkan. Saya menciptakan karya musik pun seperti itu. Apa yang saya bisa lakukan, saya rasakan apa adanya. Saya nikmati prosesnya terus seperti itu agar tiap karya yang saya hasilkan semakin baik dan tanpa beban,” ungkap Tommy yang kini sedang membuat rekaman musik instrumental itu.

Tommy belajar melukis secara otodidak, namun darah seninya mengalir dari ibunya yang juga pelukis. Ia menjadi pelukis setelah merasakan sulitnya berkarya di dunia musik. Sebagai sebuah band, lanjut Tommy, mereka harus menjaga kebersamaan dan erja sama. Namun hal itu tidak mudah. Terutama dalam mengatur jadwal ketemu untuk latihan dan sebagainya. Bahkan masalah usia dan ejekan saat mereka bermusik menimbulkan persoalan di antara anggota band.

baca juga: Seniman

“Belum lagi dunia musik saat pandemi yang semakin sulit bergerak. Namun begitu saya sangat mencintai musik walau hanya bisa menjadikannya sebagai hobby saja. Di dunia seni rupa saya bisa bergerak dan berlari sendirian. Biasanya saya sudah mulai didepan kanvas sejak matahari terbit hingga terbenam, saya benar-benar memanfaatkan cahaya matahari, malam saya buat sketsa,” ujar Tommy.

Menurutnya tidak ada waktu terbuang dan hasilnya juga terbayar sepadan.

“Alhamdulillah secara materi dan kepuasan berkesenian dari tiga bidang seni yang pernah saya geluti yakni musik, fotografi dan melukis), ternyata melukis yang bisa dibilang paling puas dan paling bebas dalam berekspresi. Dalam hal materi pun cukup menunjang untuk keseharian, saya memang tidak kuliah seni, tapi alhamdulillah hasil dari berkesenian saya bisa mewujudkan keinginan anak saya untuk berkuliah seni,” kata Tommy dengan senyum lega.  

Bapak tiga anak yang semuanya perempuan, dan beristrikan penyintas kanker payudara ini menikmati kebahagiaan jiwa karena ia menikmati semua karya lukisan yang ia ciptakan. Ia merasakan jiwa yang bebas merdeka karena tidak terikat pada aliran tertentu, tidak menjiplak atau meniru karya pelukis lain agar menghasilkan fulus besar.

“Intinya saya hanya ingin berkarya sesuai apa yang saya bisa nikmati, saya rasakan, tanpa terikat aliran tertentu. Bagi saya seniman seharusnya tidak memainkan, menjiplak dan eniru karya orang lain. Karya yang saya ciptakan telah mematangkan karakter saya sendiri, jati dirinya sendiri. Seperti para maestro, karena bagi saya maestro adalah seniman yang melahirkan karya-karya seni terbaik berdasarkan pengalaman dan wawasan pribadinya. Dan hasil karya maestro memiliki kualitas, karakter dan kekhasan yang dikagumi, melegenda dan banyak memengaruhi seniman setelahnya,” ungkapnya.

Di akhir perbincangan, Tommy mengungkapkan bahwa di saat pandemi, sebagai seniman ia banyak belajar banyak dengan situasi yang berubah drastis. Ia tetap bertahan dengan seni lukis dengan mengandalkan pameran lukisan offline dan online dengan mengandalkan media sosial. Bahkan Tommy cukup rajin memamerkan karya lukisannya di Instagram dan Facebook yang akhirnya menghubungkan dengan para kolektor di Indonesia maupun luar negeri.

“Pandemi juga membuat kita seharusnya makin kreatif, saya terus menampilkan lukisan-lukisan dengan ide-ide terbaru. Lukisan-lukisan yang saya buat rata-rata menghabiskan waktu dua hingga empat minggu. Tapi pernah dalam satu hari terjual empat lukisan. Pernah kejadian saat saya baru mengunggah di media sosialk, langsung diadopsi oleh kolektor. Jadi stok lukisan saya tidak pernah banyak,” terangnya.

“Saat ini saya bersyukur di tengah pandemi segalanya masih bisa terkendali. Dan yang terpenting saya bersama istri dan anak-anak dalam kondisi sehat. Sampai saat ini saya tetap fokus berkarya sebaik mungkin dan mengikuti pameran-pameran agar lukisan-lukisan karya saya ini selalu bertemu jodoh yang tepat di luar sana,” pungkasnya. (N-1)

 


Pos terkait