Keanekaragaman Hayati

  • Whatsapp

DI tempat tinggal saya di Depok, Jawa Barat, kadang sesekali menyelinap anak kadal, belalang, atau kumbang kelapa di pekarangan. Capung juga sesekali hinggap, meski kini sudah relatif jarang. Saya beruntung dapat mengenalkan hewan-hewan itu langsung ke putra-putri saya sehingga mereka tahu wujud spesies tersebut, tidak cuma dari buku atau kanal Youtube. Mereka juga bisa belajar bagaimana hewan-hewan itu berfungsi sebagai rantai makanan bagi mahluk lainnya dalam kehidupan, bukan sebatas menghafal nama (beserta istilah latinnya), yang disampaikan guru biologi.

Namun, saya tidak tahu sampai kapan hewan-hewan ini mampu bertahan. Kian menjamurnya permukiman, menyusutnya area hijau, serta meningkatnya polusi kendaraan, membuat habitat sejumlah satwa itu kini semakin terdesak. Persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di belahan dunia lain.

Masalah biodiversity atau keanekaragaman hayati yang semakin terancam, memang kini menjadi konsern para pemerhati lingkungan, terutama seiring dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim. Keanekaragaman hayati tentu saja bukan cuma hewan, melainkan juga tanaman, hingga mikro organisme, baik di darat maupun dasar lautan.

Pertengahan November tahun lalu, digelar konferensi internasional tentang keanekaragaman hayati bertema Sustainable use of plant, animal and microbial for advancing human welfare and nature conservation. Dalam konferensi yang digelar secara virtual itu dibahas lima topik utama yaitu, keanekaragaman hayati dan konservasi sumber daya alam, pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia, bioprospeksi sumber daya alam, aplikasi genom untuk mempromosikan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta bioteknologi dan bioteknologi untuk bioproduk.

“Melalui konferensi internasional ini, kami berharap dapat bertukar ilmu, pengalaman dan hasil penelitian untuk menjamin penggunaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan bagi kita dan generasi di masa depan,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, Yan Rianto, dalam laman resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyambut konferensi itu.

Menurut LIPI, Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbanyak di dunia setelah Brasil. Seperti diketahui, hampir semua barang dan makanan yang digunakan manusia berasal dari makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme, sehingga keanekaragaman hayati sangat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia. Keanekaragaman hayati juga berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem. Pertanyaannya, apakah masyarakat di negeri ini sadar dan peduli tentang semua ini?

Kemarin, masyarakat dunia memeringati Hari Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Day) 2021 yang bertema We’re part of the solution #ForNature (Kami adalah bagian dari solusi #ForNature). Nah, peringatan ini seharusnya bisa jadi momentum untuk mengenalkan lagi ragam kekayaan flora dan fauna yang ada di negara ini, terutama di kalangan generasi muda. Jangan mereka malah dijejali cerita-cerita tentang babi ngepet, jenglot, dan sejenisnya.


 


Pos terkait