Peta Jalan Pengelolaan Pandemi Covid-19 BPPT

  • Whatsapp

PERSOALAN pandemi yang bersifat multi dimensi masih menjadi masalah global sampai dengan saat ini. Bahkan data dan fakta menunjukkan adanya eskalasi kasus di beberapa negara dalam kawasan, dan dampak yang ditimbulkan sangat mengkhawatirkan. 

Sementara di dalam negeri jumlah kasus aktif per 18 Mei 2021 tercatat 87.514 kasus. Sementara kenaikan jumlah temuan kasus dalam rentang 14 hari dari 4-17 Mei 2021 adalah 62.041 kasus. Rata-rata kasus baru yang ditemukan perhari per 17 Mei 2021(dari nilai rerata selama 7 hari) adalah 3639 orang. Sehingga total kasus selama pandemi berlangsung sudah mencapai 1,74 juta kasus dengan angka kematian mencapai 48.305 orang. 

Penerapan protokol kesehatan yang termaktub dalam panduan 5M disertai dengan gerakan masif terstruktur 3T (testing, tracing, treatment) yang diikuti dengan intervensi berupa pembatasan mobilitas dan interaksi melalui pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro, berjalan seiring dengan program vaksinasi multi skema. 

Dari pemutakhiran data program vaksinasi per 17 Mei 2021 didapati capaian vaksinasi kedua sudah mencapai 22,54%. Sedangkan vaksinasi pertama mencapai 34,27% dari total sasaran sebesar 40.349.049 orang untuk program tahap pertama. 

Saat ini vaksinasi mandiri dalam program Gotong Royong juga sudah mulai dijalankan secara resmi dengan menggunakan vaksin produk Sinopharm yang didistribusikan oleh Kimia Farma. Besar harapan tentu saja program mandiri ini dapat berkontribusi signifikan dalam upaya pemenuhan target cakupan vaksinasi yang berimbas pada terbentuknya herd immunity. Tentunya diharapkan yang dapat memberikan efek proteksi dan pemutusan transmisi virus untuk mereduksi dampak infeksi yang berkelanjutan. 

Belajar dari pengalaman dalam pengelolaan pandemi, terlihat bahwa semangat kemandirian dan upaya kolaborasi terbukti dapat menghasilkan berbagai terobosan yang menjadi bagian dari konstruksi solusi. Tak dapat dipungkiri bahwa peran inovasi dan teknologi amat signifikan dalam proses pengelolaan pandemi. 

Upaya penegakan diagnosis yang akurat dalam waktu relatif cepat serta dapat mencakup daerah pengujian yang terdistribusi secara representatif adalah kunci dalam pengendalian transmisi. Dari semangat kolaborasi dan sinergi potensi yang terwadahi dalam ekosistem inovasi yang memiliki kesamaan landas juang dan semangat solutif, telah lahir banyak inovasi terapan yang juga telah digunakan dalam program pengendalian pandemi secara berkesinambungan. 

Unjuk karya 

Di awal pandemi Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Penanganan COVID-19 (TFRIC-19) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai salah satu cikal bakal model ekosistem riset dan inovasi teknologi, telah menghasilkan sejumlah produk pendukung penanganan kasus. Produk kolaborasi berupa rapid test berbasis anti bodi untuk skrining, unit laboratorium berstandar BSL-2 bergerak (mBSL-2), kit RT-PCR mBioCoV-19, pengembangan metoda mikro SPR, whole genome sequencing, ventilator darurat, sampai pengembangan aplikasi berbasis kecerdasan artifisial dalam sistem penegakan diagnosis. 

Inisiasi TFRIC-19 secara tidak langsung juga telah menstimulasi lahirnya semangat inovasi lintas disiplin. Dari situlah kemudian menghasilkan banyak produk inovasi seperti CePad, GeNose, RT-Lamp, Zetagreen dan beberapa inovasi teknologi hasil kolaborasi lintas disiplin dan multi center. 

Keberadaan ekosistem riset dan inovasi teknologi sebagaimana telah diawali oleh TFRIC-19, juga pada gilirannya telah mendorong lahirnya semangat kemandirian para cendekia negeri. Langkah yang disertai dengan keberpihakan nyata berupa relaksasi regulasi dalam rangka peningkatan penggunaan produk teknologi nasional. Tak berhenti hanya di situ saja, semangat inovasi dan kemandirian teknologi ini juga maujud dalam upaya mengembangkan vaksin nasional yang masuk dalam program Vaksin Merah Putih. 

Langkah strategis

Kondisi ini tentu merupakan bagian dari hikmah yang dapat dipetik dari pelajaran penting kejadian pandemi yang tengah kita jalani. Pekerjaan rumah besar yang masih menjadi tugas kita bersama adalah penuntasan pengelolaan pandemi ini secara terstruktur, sistematis, logis, dan strategis. 

Langkah strategis yang paling rasional serta dapat dilakukan saat ini adalah optimasi pengembangan vaksin, proses vaksinasi, dan penajaman akurasi deteksi, serta peningkatan kapasitas serta distribusi fasilitas pemeriksaan dan pelayanan kesehatan. Penerapan teknologi hasil proses penelitian, pengembangan, dan pengkajian di ranah praktikal yang tepat sasaran membutuhkan kajian yang cermat dan objektif hingga dapat memberikan hasil optimal dan ideal. 

Melihat dan memetakan persoalan yang masih menjadi kendala dalam pengelolaan pandemi saat ini, sekurangnya ada beberapa aspek yang dapat dioptimalkan dalam pengelolaan pandemi. Pemanfaatan kecerdasan artifisial yang terintegrasi dalam sebuah sistem telemedisin yang mumpuni dapat menjadi solusi masih terbatasnya sebaran fasilitas kesehatan di seantero negeri, misalnya. 

Konsep integrasi data kesehatan mulai dari data sarana dan prasarana faskes, data epidemiologi terkait pandemi dan kasus non pandemi, data gizi, data demografi, dan data-data hasil pengujian laboratorium. Selain itu juga ada pencitraan medis yang terkategori sebagai data bantu penegakan diagnosis dapat diintegrasikan dalam sebuah sistem holistik berbasis kecerdasan artifisial. Sehingga dapat menghasilkan berbagai solusi di ranah praktikal dan manajerial. 

Sistem surveilans terintegrasi seperti SIZE (Sistem Informasi Zoonosis dan EID/Emerging Infectious Disease) selain dapat menjadi bagian dari sistem prediksi (forecasting) dan bagian dari sistem peringatan dini, juga dapat menjadi basis landas (platform) dalam pengembangan sistem manajemen logistik dan perencanaan yang merupakan bagian dari sistem kebijakan kesehatan nasional. Akurasi kebijakan dan keputusan berbasis data objektif serta termutakhir kan ini akan meningkatkan performansi layanan kesehatan dengan ciri presisi, efektif, dan efisien. 

Integrasi teknologi seperti bioinformatika dalam ranah kedokteran personal dan pengembangan model pengobatan presisi, yang disertai dengan kapasitas penelitian dalam konteks imunologi (antigen-antibodi), selain dapat diarahkan untuk mengakselerasi pengembangan vaksin multi platform (dari inactivated sampai rekombinan), juga dapat mengoptimasi pengkajian dan penerapan metoda diagnostik yang efisien sekaligus presisi. 

Demikian juga dalam konteks pengembangan metoda terapi dan pengobatan. Pengobatan dengan mengoptimasi potensi sumber daya alam berbasis tumbuhan dan plasma nutfah misalnya, dapat difasilitasi teknologi bioinformatika sehingga dapat menghasilkan produk obat modern asli Indonesia (OMAI). Semua ini dapat terwadahi dalam sebentuk model kolaboratif yang disediakan oleh ekosistem riset dan inovasi teknologi seperti TFRIC-19. 

Informasi kesehatan

Kemajuan hasil riset para peneliti nasional yang maujud dalam berbagai produk inovasi di fase prototipe, seperti dalam bidang penyandapan tanda vital fisiologi tubuh, pencitraan medis, sampai metoda laboratoris dapat diintegrasikan dalam suatu konsep sistem layanan kesehatan primer terpadu. Memiliki mobilitas tinggi untuk menjamin penetrasi dan distribusi yang berkeadilan dan tepat sasaran, serta diharapkan dapat menghasilkan data dan informasi kesehatan yang objektif, valid, dan mutakhir. 

Sistem informasi kesehatan berbasis kecerdasan artifisial dalam pengolahan megadata nasional diharapkan juga dapat membantu pemetaan secara objektif cakupan program yang menjadi prioritas. Misal dalam hal optimasi capaian vaksinasi dengan harapan terakselerasinya kekebalan komunitas dapat dipandu sistem agar lebih efektif dalam penentuan kelompok dan daerah sasaran. Sistem dinamik dengan algoritma pengambilan keputusan yang dilengkapi kemampuan menganalisa pola adalah pilihan paling rasional untuk menjamin keberhasilan program.

Di sisi lain, pengembangan inovasi di sektor alat kesehatan yang meliputi aspek diagnostik dan juga alat bantu terapi dapat terus difasilitasi sehingga dapat memenuhi kaidah regulasi, sekaligus memenuhi syarat yang ditetapkan oleh industri. Berbagai riset rintisan di bidang biomedik dapat dibukakan peluang agar layak mengikuti proses pengujian dan sertifikasi, serta tentu saja kemudian dapat diproduksi karena memiliki nilai dan kapasitas ekonomi. 

Peran ekosistem riset dan inovasi teknologi yang merupakan rintisan TFRIC-19 dapat menjadi platform nasional untuk pengembangan terintegrasi dari berbagai inovasi karya anak negeri tersebut. Termasuk di dalamnya beberapa hal terkait dengan pemulihan sistem ekonomi yang memerlukan penerapan teknologi dalam pelaksanaannya. Satu sistem data kesehatan nasional menjadi hal krusial yang amat berperan dalam memfasilitasi mobilitas manusia terkait dengan pemulihan sistem ekonomi. 

Data hasil tes personal dan sertifikat vaksinasi yang terintegrasi dalam data pribadi yang dapat diverifikasi serta ditelusuri historinya akan memberikan terobosan besar, bukan hanya di saat pandemi melainkan juga untuk kebaikan bersama di masa depan. Ini akan menjadi cikal bakal sistem pertukaran data kesehatan (health information exchange) dalam struktur dan konstruksi sistem informasi kesehatan nasional (national health information system) yang terstandsarisasi dengan baik, serta dikelola dengan benar. 

Semoga kehadiran TFRIC-19 yang dipicu oleh terjadinya pandemi ini dapat menjadi pembuka perspektif baru yang menawarkan horizon harapan melalui proses kebersamaan dalam kolaborasi yang mampu mensinergikan potensi, khususnya di bidang riset dan inovasi teknologi. Sebagai bagian dari komponen bangsa yang mengemban amanah ibu pertiwi untuk menyelamatkan dan mengharumkan nama bangsa, tentu para peneliti, perekayasaya, dan kaum cendekia bangsa memerlukan wadah dan atmosfer yang kondusif dalam berkarya dan bahu membahu bekerjasama. Untuk itulah TFRIC-19 hadir dan kini mulai memasuki fase kedua untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara.


Pos terkait