Keironisan Berbahasa

  • Whatsapp

PROBLEMATIK berbahasa Indonesia kekinian menunjukkan ironisnya dunia pendidikan. Dalam sekian tahun bahasa Indonesia di ajarkan, selama itu pula ketidakpahaman berbahasa diperlihatkan. Kalaulah yang menjadi problema tik itu tentang struktur kalimat, rasanya itu patut mendapat pemakluman. Begitu pula, bila problema tik itu dilakukan oleh kalangan tuna aksara, sekali lagi kita akan maklum dibuatnya.

Akan tetapi, bagaimana bila problematik berbahasa itu terkait dengan hal sederhana, mudah, dan sepele dalam keseharian? Pun bila problematik itu terkait dengan pemakai bahasa yang terdidik? Inilah yang disebut keironisan berbahasa.

Keironisan pertama berawal dari sebuah webinar bahasa, yang umumnya diikuti guru-guru bahasa Indonesia. Dalam sesi tanya-jawab, seorang peserta berargumen bahwa penulisan kata perbankan yang benar ialah perbankkan, yakni awalan per-, kata dasar bank, dan akhiran –kan. Sebagai penanggap, saya memaparkan bahwa penulisan yang sesuai kaidah ialah perbankan bukan perbankkan. Alasannya, kombinasi imbuhan per- tidak berpasangan dengan –kan, tetapi dengan sufik -an. Karena kaidah imbuhan seperti itu, ada kata perternakan, perbudakan, dan penampakan.

Rupanya alasan itu pun tidak membuat penanya langsung menerimanya. Justru sebaliknya, dia beralasan bila penulisan kata perbankan tanpa dua huruf k, itu artinya merujuk pada kata ban bukan bank.

Kejadian kecil di atas cukup mengundang tanya: bagaimana siswa memahami pengajarannya? Sudah berapa siswa yang diajarnya? Begitu pula berapa konsep materi yang dipahami salah olehnya? Rasanya keironisan berbahasa berawal dari pengajaran yang salah. Pemahaman konsep yang keliru oleh guru membuat peserta didiknya pun meniru.

Dalam keironisan pertama ini, problematik bahasa terjadi pada pengguna terdidik dan sekaligus pendidik. Satu konsep berbahasa salah akan menyebar kepada puluhan, ribuan, bahkan jutaan pengguna bahasa lain. Inilah yang kini terjadi.

Keironisan lain justru terjadi di ruang-ruang publik, tentang hal sederhana, dan terjadi (menurut saya) dalam waktu yang lama. Kelaziman itu terlihat dari iklan penjualan properti yang mudah ditemui di depan ruko dan perumahan. Sering kita ditemui kata sebagai berikut: di jual (seharusnya dijual), di kontrakan atau dikontrakkan (seharusnya dikontrakan), dan di larang buang sampah disini (seharusnya dilarang membuang sampah di sini).

Dari beberapa contoh itu, saya berkeyakinan bahwa kita pernah melihat atau membacanya. Artinya, problematik berbahasa yang dapat dikatakan sederhana (baca: mudah), tetapi digunakan secara salah. Saya pun menduga ini terjadi tidak di satu atau dua tempat, tetapi masif di banyak tempat dan daerah. Sekali lagi, inilah keironisan.

Sebagai penjelasan sederhana, dapat saya sampaikan bahwa kata kerja (bukan kata yang mengacu tempat) ditulis gabung dengan preposisi (kata depan). Sebaliknya, kata depan akan berdiri terpisah bila berhadapan dengan kata benda atau mengacu lokasi atau tempat.

Penanaman konsep sederhana di atas melalui bangku sekolah menjadi awal yang baik mengurangi prolematik berbahasa. Di sinilah peran penting guru dikuatkan. Secara akademis dan pengajaran, guru menjadi yang pertama mencerahkan peserta didik. Artinya, bila konsep kebahasaan dikuasai baik oleh guru (tidak justru keliru), prolematik berbahasa akan dapat dibenahi satu per satu. Tidak mesti menjadi ahli untuk mengerti. Tidak mesti menjadi pakar untuk menjadi pintar. Namun, mulailah dengan peduli.

 


Pos terkait